Headline >>
|

Gunung Bromo Pelindung Tengger


KRAKSAAN (InfoKraksaan.com)-Gunung Bromo yang menjadi primadona wisata Kabupaten Probolinggo saat ini mulai menunjukkan 'batuknya'. Gunung yang merupakan titik perbatasan kabupaten yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang ini terlihat sepi dan pengunjung hanya dibatasi sampai kawasan Pananjakan di Ngadisari dan Wonokitri. Sehari sebelumnya, gunung ini naik status dua kali dalam sehari, status Siaga, Selasa (23/11/2010) pagi, dan Awas pada sore harinya.

Langkah itu diambil setelah terjadi peningkatan aktivitas gempa vulkanik. Sepanjang 1-23 November terjadi lebih dari seribu gempa vulkanik. Pada 23 November, kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Bromo Muhammad Syafi’i yang dikutip dari media elektronik, tercatat 20 gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 10-40 milimeter serta tremor beramplitudo 4-30 milimeter. Rabu mulai pukul 00.00 hingga pukul 09.52 terhitung 18 gempa vulkanik dengan amplitudo 8-38 milimeter dan tremor beramplitudo maksimum 2-5 mm. ”Grafik energi vulkanik yang ada juga terus meningkat. Karenanya, status masih Awas dan kami merekomendasikan 2,5 kilometer-3 kilometer, terutama wilayah lautan pasir, steril dari warga atau wisatawan,” tutur Syafi’i kepada salah satu media.

Berbeda dengan ramainya berita di media, warga Suku Tengger di Ngadisari, Kabupaten Probolinggo tetap melaksanakan aktivitas sehari-hari seperti menanam kentang, merawat tanaman seperti kubis dan daun bawang, serta mengurus kuda peliharaannya seperti biasa.

”Saben Jumat Legi diselameti, ngangge jenang gangsal didongani pak dukun. Sing dipadosi niku keselametan (Setiap Jumat Legi diadakan selamatan dengan lima jenis jenang yang didoakan pak dukun. Yang dicari keselamatan),” kata Newi.

Letusan-letusan Gunung Bromo, seperti yang terjadi pada 8 Juni 2004, tidak pernah menyentuh Desa Ngadisari kendati hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Gunung Bromo. Umumnya material vulkanik keluar di sekitar lautan pasir atau lebih mengarah ke Nangkajajar, Pasuruan.

Petugas pemantau Gunung Bromo, Achmad Subhan, lebih melihat bentuk leher kawah sebagai pelindung alami warga. Gunung Bromo memang sedikit miring ke arah Pasuruan. Karena itu, selama ini letusan atau semburan asap mengarah ke Nangkajajar, Pasuruan, dan bukan ke desa-desa Tengger di Probolinggo

Menurut Ketua Dukun Tengger, Mudjono (60), Gunung Bromo adalah tempat leluhur orang Tengger. Karena itu, bisa dikatakan sebagai pelindung warga Tengger. Apalagi, warga selalu berupaya menghormati para leluhur dengan menjalani ritual mempersembahkan hasil bumi pada saat Kasada ataupun sesajen setiap Jumat Legi.

Kalaupun Bromo meletus, kata Mbah Mudjo—panggilan akrab Mbah Mudjono—itu kehendak alam. Keriuhan hanya terjadi di kalangan masyarakat di luar warga Tengger, sementara warga tenang-tenang saja. Upacara tolak bala kecil-kecilan dilangsungkan beberapa hari lalu. Ini pun digelar setelah Mbah Mudjo berembuk dengan banyak dukun di Malang, Lumajang, Pasuruan, dan Probolinggo.

Kendati pasrah, warga Tengger bukan tipikal warga yang tidak berupaya. Usaha tetap dijalankan. Namun, apabila Pos Pengamatan Gunung Bromo Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memberi imbauan untuk mengungsi, penduduk diminta mematuhi imbauan itu.

Syafi’i juga tak bisa memastikan apakah Gunung Bromo akan meletus atau kembali tenang. Namun, kewaspadaan harus ditingkatkan sebab kondisi menjelang letusan pada tahun 2004 sangat berbeda dengan saat ini. Dulu, tidak terdeteksi banyak gempa sebelum letusan. Kini, terjadi lebih dari seribu gempa dalam waktu kurang dari sebulan.

Posted by News Online Center on 2:34 PM. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 comments for "Gunung Bromo Pelindung Tengger"

Leave a reply

Blog Archive

Seputar Kraksaan

Seputar Probolinggo

Jelajah Kota